jump to navigation

Google Mampu Mendeteksi Malware di Komputer Kita 28 July 2011

Posted by Luthfi in Uncategorized.
add a comment

Google Mampu Mendeteksi Malware di Komputer Kita.

kisah 9 October 2010

Posted by Luthfi in Uncategorized.
add a comment

Aku tak tahu harus berkata apa
Tiap saat hanya teringat wajahmu
Bahkan tiap orang yang aku temui berwajah dirimu
Oh Tuhan..
Bahkan aku tak bisa melupakan sedetik pun
Tapi aku tak bersamamu kini
Aku kesepian
Aku rindu
Aku gelisah
Aku terdiam tak bersuara
Aku merasa hampa
Canda tawamu memberiku warna
Oh Tuhan
Aku sadar telah menyakitimu
Banyak puing hatimu terbuang sia-sia
Tapi kenapa aku selalu merasa sama
Engkau tak menganggapku
Apa mungkin karena beda?
Atau karena waktu?
Memang aku ke kanakan
Tak bisa bersikap lebih dewasa
Atau mengkin bersikap bijaksana
Bukankah perasaan anak kecil selalu murni?
Oh Tuhan..
Aku telah ditinggalkan
Atau karena aku yang meninggalkan?
Sungguh ironi Kau buat hidupku ini
Disaat aku tahu cintaMU, disaat itu
Engkau menghilangkan cintaku untuknya
Aku tak bisa memaksaMU memberikan cinta itu
Tapi aku sudah terlanjur cinta dengan cinta yang Engkau beri
Oh Tuhan..
Aku layaknya manusia lain
Aku merasa lengkap saat ada dia
Aku merasa kuat saat bersamanya
Aku merasa rendah karena cinta yang Engkau beri
Aku tahu cintaku ini tak akan pernah sama dengan cintaMU
Aku selalu memohonMU
Berikan cintaMU kepadanya
Satu-satunya perhiasan yang tak dapat aku miliki
Atau hanya karena lembaran takdir dariMU
Berikanlah MukjizatMU padanya
Aku memohon kepadaMU, Tuhan.

15 January 2010

Posted by Luthfi in Uncategorized.
add a comment

Kepemimpinan

Sebuah tantangan ataukah kebutuhan?

Oleh Ruhan Luthfi

ruhanluthfi@yahoo.co.id

Pendahuluan

Setiap individu dalam komponen organisasi harus memiliki prinsip dan tanggungjawab dalam mengemban tugas dan wewenangnya di dalam sistem organisasinya. Sebagai komponen induk, ketua atau direktur atau pimpinan atau apa pun sebutannya sebagai pemegang kendali dan kekuasaan tertinggi, memiliki kewenangan lebih luas dan kuat yang melekat pada tiap tanggungjawabnya. Sebagai pemeran utama, pimpinan harus lebih memiliki pandangan yang luas dari tiap jengkal keadaan organisasinya, sumber dayanya dan lingkungannya. Sehingga dalam pelaksanaan tugas dan wewenangnya, pimpinan harus bisa mendeklarasikan setiap algoritma ataupun rumus yang diberikan atau pun yang dipaksakan ada oleh keadaan eksternal dari sistem.

Organisasi

Menurut Trewatha dan Newport,

“ Sebuah organisasi dapat kita nyatakan sebagai sebuah struktur sosial yang didesain guna mengkoordinasi kegiatan dua orang atau lebih, melalui suatu pembagian kerja dan hierarki otoritas, guna melaksanakan pencapaian tujuan umum tertentu”.

Definisi yang dikemukakan menekankan pada dua macam pertimbangan. Pertama adalah adanya kelompok orang yang bekerja sama secara terkoordinasi guna melaksanakan pencapaian sasaran-sasaran. Dengan berbagai sumber daya yang ada, maka diperlukan suatu koordinasi yang baik guna pencapaian tujuan – tujuan bersama. Pertimbangan yang kedua adalah suatu organisasi sebagai suatu sistem kerangka terstruktur. Salah satu elemen yang penting adalah pembagian kerja yang jelas dalam struktur organisasi. Tentu saja seorang ketua akan berbeda tugas dan wewenangnya dengan koordinator bagian humas.

Dalam kerangka sistem suatu organisasi, diperlukan seorang pemimpin dalam artian sebagai orang yang dipercaya karena kemampuan personalnya untuk mengerahkan usaha bersama ke arah pencapaian tujuan tertentu dengan pengangkatan secara resmi. Erat kaitannya dengan persyaratan teknis bagaimana me-manage keberlangsungan organisasinya, hubungan interpersonal dengan anggota, dan  respon aktif terhadap lingkungannya.

Tiap bentuk organisasi akan memiliki berbagai macam kriteria maupun parameter – parameter dalam penentuan the leader dari organisasinya.

Keterkaitan Organisasi dengan Kepemimpinan

Sebagaimana telah disebutkan di awal, pemimpin harus mengetahui dan memahami bagaimana keadaan yang sesungguhnya dari organisasi yang dipimpinnya. Baik dari sejarah, akuntabilitas, finansial hingga administrasi dari organisasinya. Bagaimanapun juga, dilihat dari sisi luar, organisasi akan terlihat baik atau buruk tergantung dari pemimpinnya. Sungguh ironi jika pemimpin tidak tahu seluk – beluk organisasi yang dipegangnya. Dengan demikian, akuntabilitas dia sebagai seorang pemimpin perlu ditanyakan.

Disaat terjadi konflik antar anggota, posisi pemimpin akan berfungsi sebagai penengah. Selain itu pemimpin berfungsi sebagai penerus ide – ide dari bawahannya dan sebagai pemberi motivasi di kala kejenuhan terjadi pada anggotanya. Fungsi – fungsi ini berkaitan erat dengan kemampuan teknis dari pemimpin yakni kemampuan berkomunikasi dengan sifat dua arah. Idealnya, pemimpin bisa menjadi orang yang mengontrol bawahannya dan bisa juga sebagai sahabat dan teman dari anggotanya. Fluktuasi keadaan dan pola pikir dari anggota sangat berpengaruh pada kinerja organisasi tersebut yang berdampak pada lingkungannya. Tentu saja tidak hanya pengaruh internal saja, namun demikian kerja sama antar anggota dengan koordinasi dari seorang pemimpin menjadi alasan utama organisasi tersebut dinilai lingkungannya.

Kepemimpinan merupakan inti suatu organisasi. Mengapa? Karena seseorang yang memiliki kualitas seorang pemimpin yang visioner dapat mencapai tujuan – tujuan tertentu dari organisasinya. Tentu saja keberlangsungan dari organisasi tersebut sangat bergantung pada kualitas SDM-nya. Sebut saja sekretaris salah menginterpretasikan instruksi dari pimpinan. Akibatnya, pelaksanaan administrasi ataupun aktivitas organisasi akan terbengkalai. Akhirnya, organisasi itu perlahan – lahan akan mati. Untuk mengantisipasi keadaan seperti itu, tentu kualitas kepemimpinan dari tiap personal dari anggota harus baik dan disertai komitmen yang tinggi.

Keadaan di Indonesia

Sebagai sarana pembentukan karakter kepemimpinan, partai politik masih menjadi primadona bagi sebagian kalangan masyarakat di Indonesia. Tak ayal jika pemilihan umum tahun 2009 begitu banyak partai politik yang menjadi peserta pemilu. Namun demikian, yang menjadikan pekerjaan rumah untuk tiap partai politik tersebut adalah bagaimana memunculkan kader – kader mereka yang benar – benar berkualitas dan sesuai dengan etika dan norma yang berlaku di masyarakat luas. Tentu masyarakat tidak menginginkan “ wakil – wakil ” mereka menyalahgunakan kepercayaan yang telah diberikan serta amanah yang dibebankan untuk “ mereka”. Masih diperlukan berbagai upaya pencitraan diri bagi “para pemimpin baru” untuk mendongkrak citra sebagai orang yang layak dipercaya, memiliki moral baik, penampilan meyakinkan, popularitas nyata dalam masyarakat majemuk (HA Latief Burhan – ICMI Orwil Jatim, 2008).

Meski para “pemimpin baru” tersebut masih belum mayakinkan untuk mengemban suara – suara rakyat, tetap saja negara membutuhkan para pemikir dan pemimpin yang bisa menjalankan roda kehidupan bangsa. Banyak kegiatan rumah tangga negara membutuhkan orang – orang yang bersedia menjalankannya demi keberlangsungan hidup masyarakatnya. Hubungan internasional antara Indonesia dengan negara – negara di dunia membutuhkan orang yang bersedia dan berkualitas untuk menjaga keberlangsungan rantai kerja sama internasional. Pembangunan mikro dan makro setiap daerah di Indonesia, membutuhkan orang yang bisa mengontrol dan mengakomodasi berbagai aspek pembangunan. Pada bidang kesehatan, membutuhkan orang yang bisa mengatur dan memberikan otoritas kepada petugas kesehatan guna melayani kebutuhan masyarakat akan kesehatannya. Di bidang pendidikan, tentu membutuhkan orang – orang yang berkomitmen tinggi untuk mengembangkan dan memperbaiki mekanisme pendidikan bagi masyarakat luas, khususnya dari kalangan menengah ke bawah.

Negara masih  membutuhkan banyak orang yang berkomitmen tinggi dan amanah. Terlepas dari latar belakangnya, secara idealnya “pemimpin – pemimpin” tersebut masih jauh dari angan – angan. Sebagai contoh beberapa waktu yang lalu Indonesia digemparkan oleh fenomena mafia peradilan dan cicak vs buaya. Bagaimana mungkin tidak shock seluruh rakyat Indonesia mengetahui fenomena tersebut. Ironi sekali disaat kepala negara mengobarkan semangat reformasi birokrasi guna melayani kebutuhan masyarakat lebih baik, ternyata ditikam dengan fenomena yang sangat mencoreng nama pemerintahan. Bagaimana mungkin aparat penegak hukum bisa menyalahgunakan kepercayaan masyarakat hanya untuk memenuhi kebutuhan perut mereka padahal masih sangat banyak rakyat Indonesia berada di bawah garis kemiskinan. Di saat rakyat bergantung pada lembaga negara Komisi Pemberantasan Korupsi, dicoreng wajah rakyat dengan perseteruan antara lembaga pemberantas korupsi dengan lembaga penegak hukum. Sungguh menyesalkan apabila dua lembaga yang sangat diharapkan masyarakat  ternyata saling menjatuhkan satu sama lain. Selain itu, fenomena pemberedelan kebebasan berekspresi terkengkang oleh Undang – Undang yang notabene belum ada undang – undang penjelasnya. Prita Mulyasari, seorang warga negara yang mengeluh akan pelayanan sebuah rumah sakit di milis dengan mengirimkan email kepada teman – temannya. Dia dijerat dengan UU ITE dalam koridor mencemarkan nama baik. Kejadian ini benar – benar memberikan shock-therapy kepada masyarakat Indonesia yang saat ini sudah mulai melek akan teknologi informasi. Dalam UUD 1945 pun sudah dijamin kebebasan berkekspresi dan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai Hak Asasi Manusia (UUD’45 pasal 28,28A-28J).

Berbagai fenomena dan kejadian yang telah disebutkan sebelumnya merupakan beberapa contoh bagaimana kepemimpinan di Indonesia baik secara langsung mau pun tidak langsung. Tentu yang bertanggung jawab dari berbagi peristiwa tersebut adalah masyarakat sendiri, kenapa bisa memberikan kepercayaan dan wewenang kepada mereka yang berkecimpung di pemerintahan dengan sebelah tangan. Masih belum ada kesungguhan di pemikiran masyarakat Indonesia karena masih begitu terhalang dengan keadaan sosial ekonomi mereka. Misalkan dalam masa pemilu, tidak sedikit peserta pemilu menggunakan cara politik uang dengan memberikan hadiah berupa uang, kalender dan sebagainya kepada masyarakat. Tentu pemberian hadiah tersebut diikuti dengan harapan bahwa dia dipilih. Bagi masyarakat sendiri justru sangat menguntungkan karena tanpa harus susah payah mereka bisa dapatkan uang dan sebagainya. Bahkan yang sangat miris adalah suara rakyat bisa “dibeli”. Keadaan seperti ini tentunya dilatarbelakangi oleh keadaan ekonomi yang masih sangat rendah. Lantas dengan “asal memilih” rakyat menentukan wakil mereka untuk mengurus negara dan menghidupi rakyat. Dalam konteks ini bisa disebut bahwa nilai seorang pemimpin atau bahkan kepemimpinan setara dengan nilai uang atau barang dan jasa. Ketika terjadi masalah dengan wakil – wakil mereka di pemerintahan, masyarakat berbondong – bondong memprotes dan memaksa lengser dari jabatan. Apakah sikap seperti ini layak diacungi jempol padahal masyarakat sendiri yang memilih “mereka” dengan berbagai latar belakang?

Kepemimpinan di Indonesia adalah yang memiliki uang dan yang tua yang berkuasa. Begitu rendahnya nilai dari sebuah kepemimpinan hingga berbagai cara dilakukan demi menjadi seorang “pemimpin”.  Menurut J. Slikboer seorang pemimpin memiliki kriteria sebagai berikut :

  1. Sifat serta kemampuan dalam bidang intelektual. Seorang pemimpin yang tidak memiliki tingkat kecerdasan yang baik tidak akan banyak berhasil dalam pekerjaannya. Bakat perlu dikembangkan ke berbagai arah yang potensial. Tentu saja tidak lepas dari “oportunisme” yaitu harus dapat melihat keadaan yang berlaku yang berarti harus menyesuaikan dengan keadaan tersebut dan tidak lepas dari sifat kritis yang dimiliki.
  2. Sifat yang berhubungan dengan watak. Seorang yang memiliki banyak kemampuan untuk menyatakan diri sendiri yang erat kaitannya dengan inisiatif.
  3. Sifat yang berhubungan dengan temperamen. Seorang pemimpin tidak boleh memiliki sifat “apatis”, ia harus memiliki temperamen dalam artian vitalitas, spirit, dan pushing power. Tentu saja harus bisa menguasai diri sendiri untuk mengimbangi sifat yang lain.

Dalam melaksanakan berbagai kegiatan pemerintahan maupun organisasi, sifat – sifat seorang pemimpin menjadikan satu karakter dari organisasi tersebut. Dalam paradigma kebangsaan, tentunya menjadi sebuah catatan akan keberhasilan dari organisasi ataupun pemerintahan dengan berbagai kinerja tertentu. Proses inilah yang membutuhkan karakter – karakter pemimpin yang “bersih” dan bertanggung jawab. Meski demikian, secara real masih cukup sulit dilakukan karena terkendala dengan perilaku sosial dari anggota organisasi tersebut atau bahkan masyarakat dari negara tersebut. Kemudian, apakah kepemimpinan secara umum menjadikan sebuah sebuah tantangan tersendiri atau bahkan menjadikan kebutuhan pokok dalam berkehidupan pada umumnya?

Yang menjadikan dasar pembentukan karakter pemimpin adalah bagaimana individu mengetahui kekuatan yang ada pada dirinya sendiri. Menurut Florence Littauer, “ Setelah kita tahu siapa diri kita dan mengapa kita bertindak dengan cara seperti yang kita lakukan, kita bisa mulai memahami jiwa kita, meningkatkan kepribadian kita, dan belajar menyesuaikan diri dengan orang lain”. Kepribadian inilah yang memberikan kontribusi pada pemikiran, sikap, pengambilan keputusan, penyelesaian masalah, dan gaya kepemimpinan pada tiap individu. Sebenarnya erat kaitannya dengan bagaimana perilaku tiap individu bisa sesuai dengan sikapnya. Dengan adanya tatanan norma, sikap tiap orang bisa menjadi lebih terencana sehingga bisa memenuhi kapasitas sikap dan perilaku serta watak dari seorang pemimpin.

Menurut Penulis

Beberapa sifat yang harusnya dimiliki dari seorang pemimpin yang telah dijabarkan masih cukup jauh dari praktiknya di Indonesia. Berbagai praktik yang ada di Indonesia inilah yang perlu adanya perbaikan. Tentu idealnya pemimpin masih menjadi suatu tantangan terberat bagi negara. Negara harus bisa memilah orang – orang yang akan memegang kendali pemerintahan yang berkaitan dengan akhlak dan perilaku. Selain itu etos kerja dan komitmen yang tinggi menjadi salah satu syarat pokok dalam kepemimpinannya. Di sisi yang lain, kepemimpinan seseorang yang bersedia mengemban tugas negara masih sangat dibutuhkan, dengan berbagai kekurangan. Misalkan tidak ada yang menjadi pemimpin/wakil di pemerintahan justru akan menghambat proses kehidupan yang berlangsung di negara ini. Masih banyak rakyat yang membutuhkan pemimpin yang benar – benar amanah dan berkarakter pemimpin.

Meski banyak hal yang melatarbelakangi sikap dan perilaku kepemimpinan, tetap menjadi tugas bersama baik dari lembaga pemerintah, lembaga swasta, akademisi, dan masyarakat umum. Tentunya pelaksanaan tugas kaderisasi yang benar – benar relevan dengan semangat kenegaraan dan sejalan dengan norma dan nilai-nilai yang berlaku di Indonesia menjadi poros utama. Sehingga, setiap bentuk usaha berbagai macam pengkaderan memiliki prinsip yang sama dalam proses pembentukannya. Masih besar harapan rakyat untuk bisa mendapatkan pendidikan politik dari wakil – wakil mereka yang berada di partai politik dan tentu saja pendidikan formal bisa memberikan kontribusi yang besar bagi pengkaderan calon – calon pemimpin yang berkualitas bagi bangsa dan negara.

_______________________

Tulisan ini diambil dari tugas makalah seminar mata kuliah Manajemen dan Organisasi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga tahun 2009

Daftar Pustaka

Burhan, Latief HA.2008.Kepemimpinan Amanah.Silaturrahmi Kerja Wilayah ICMI Orwil Jatim.Tulungagung.

Littauer,Florence.1996.Personality Plus alih bahasa Anton Adiwiyoto.Jakarta:Bina Aksara.

Widyarini, Nilam Dra.,M.M.,M.Si.2009.Kunci Pengembangan Diri.Jakarta:Elex Media Komputindo.

Winardi, J.2007.Manajemen Perilaku Organisasi.Jakarta:Kencana.