jump to navigation

Sisi Gelap Mahasiswa* (Bagian 2) 28 February 2011

Posted by Luthfi in cuap-cuap, Pendidikan.
2 comments

Dari bagian 1

Baik kita lanjut ke bagaimana kehidupan sosial mahasiswa saat ini. Sebelumnya sudah saya singgung, gaya hidup saat ini ditentukan dari seberapa cepat orang tersebut mendapatkan informasi atau paling tidak eksis pada salah satu media (pendapat pribadi). Seringkali berbagai media teknologi menjadi penentu keberhasilan suatu usaha manusia, tapi tak sering teknologi tersebut disalah gunakan. Bagaimana dengan mahasiswa* yang ada di tempat saya? Secara umum bisa saya rangkum “cukup sosialis”. Dalam artian ini, mahasiswa* lebih peduli dengan sesama, tak peduli beda status (pangkat, harta, pintar, single/ sudah berpasangan). Mungkin pameo yang cocok untuk disampaikan adalah “One for all, all for one”. Lebih ditekankan pada bagaimana bisa berbagi dengan teman-teman sejawat. (more…)

Sisi Gelap Mahasiswa* 14 January 2011

Posted by Luthfi in cuap-cuap, Pendidikan.
Tags: , ,
add a comment

*) Bukan hasil generalisasi statistik

Bagian 1

Sebelumnya akan saya perjelas di sini bahwa tulisan ini tidak bermaksud menggurui, menghardik, atau bahkan menjelek-jelekkan status pekerjaan ini : mahasiswa. Di sini akan sedikit saya ceritakan bagaimana mereka* berusaha sebisa mereka* untuk menjadi puncak “rantai makanan” pada komunitas para pencari kerja. Tanda (*) pada frase kata tertentu merujuk pada keterangan: bukan hasil generalisasi statistik.

Saat pertama kali saya mengikuti kegiatan pengenalan mahasiswa (baca: ospek), frase kata yang dikobarkan seperti “Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia!” atau “Mahasiswa adalah agent of change!”. Dengan kata lain, mahasiswa* menjadi salah satu bagian tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara dan lebih tepatnya menjadi salah satu bagian dinamika politik di Indonesia. Saya setuju dengan pendapat tersebut, karena saat ini saya sebagai mahasiswa. Lantas seberapa besarkah kontribusi mahasiswa* di dinamika politik negeri ini? Tentu saja sudah besar. Saat revolusi dari pemerintahan orde lama (rezim Soekarno) ke orde baru (rezim Soeharto) mahasiswa* menjadi penggerak non-militer perubahan tersebut (obsesi film Gie). Di tahun 1998, sekali lagi mahasiswa* menjadi ujung tombak reformasi. Rezim kini berganti yang lebih “reformis dan demokratis”.

Di bidang IPTEK, mahasiswa* Indonesia tidak kalah dengan mahasiswa* dari negara lain. Sudah banyak mahasiswa* Indonesia yang mengikuti ajang internasional dan hasilnya sangat bagus. Banyak pihak sudah mulai memahami pentingnya mahasiswa*, sehingga beasiswa non pemerintah dan ikatan kerja mulai menjamur. Pihak non pemerintah pun mulai meminati sebagai sponsor utama kegiatan kompetisi akademis dan non akademis. Tentu saja output yang diharapkan adalah kualitas mahasiswa* yang sangat baik. Ok, kita kembali ke topik tulisan ini.

Sisi gelap yang saya ceritakan di sini tidak sepenuhnya benar atau sepenuhnya salah. Yang saya kutip di sini hanya sedikit cuplikan dinamika kehidupan mahasiswa* Indonesia. Sebelumnya wilayah pembahasan ini saya persempit di wilayah Jawa Timur atau lebih tepatnya di Unair. Kita mulai dari bagaimana cara mahasiswa* memenuhi kebutuhan akademisnya, dilanjutkan pada bagaimana pergaulan atau kehidupan sosialnya, dan kemudian bagaimana kompetisi yang dilakukan.

Kebutuhan akademis di sini akan lebih spesifik pada cara mendapatkan indeks prestasi (IP). Mahasiswa* dahulunya (tidak tahu kapan) lebih suka dengan usaha keras, pengorbanan ini itu, dan mungkin lebih sabar. Saat ini, lebih senang dengan hal-hal yang praktis dan ekonomis. Contohnya, dulu mungkin mengerjakan tugas paper dengan cara di ketik manual (mesin ketik lama yang berbunyi keras tiap ketikannya ^^), saat ini akan lebih cepat menggunakan komputer/ laptop/ notebook/ netbook untuk mengetik. Mungkin saja karena perkembangan teknologi yang memberikan kemudahan. Ups, tapi coba dilihat lebih detail. Bisa saya sebutkan sekitar 60-70% mahasiswa* sudah memiliki laptop/ notebook/ netbook. Untuk apa? Tentu saja untuk mengerjakan tugas kuliah, untuk update berita baik via facebook, twitter atau media lain, dan untuk kesenangan. Kesenangan di sini lebih pada pecinta game. Dalam artian lain, barang prestisius tersebut bukan hanya menjadi kebutuhan tapi sudah menjadi gaya hidup mahasiswa* saat ini.

Bagaimana metode belajar yang dipakai mahasiswa*? Nah, untuk yang satu ini mungkin sudah banyak yang tahu. Lebih dikenal dengan metode SKS, akronim dari Sistem Kebut Semalam. Maksudnya mahasiswa* akan lebih serius belajar satu malam sebelum hari H ujian. Nah sebagian besar berhasil dengan mendapatkan nilai yang tinggi, tak sedikit pula yang hanya berkisar nilai E-D. Apa mungkin metode yang digunakan salah? Saya rasa tidak salah, atau lebih pada probabilitas semata (bukan orang matematika). Maksud saya mungkin saja saat itu, si mahasiswa* yang E-D, kebetulan tidak paham materi atau kebetulan ada pikiran lain sehingga tidak konsen mengerjakan ujian. Pikiran lain ini bisa saja karena kucingnya mati ditabrak motor, pacarnya minta dijemput, ortu mau cek kos-kosannya, ada hutang yang belum dibayar, atau mungkin karena belum sarapan (nah alasan terakhir ini yang menjadi alasan pertama saya, hahaha). Yang mendapat nilai baik, bisa saja karena kebetulan dia paham materinya atau mungkin memang sudah berbakat mendapat nilai baik tanpa harus belajar tiap malam. Adakah yang tidak memakai sistem SKS seperti belajar setiap hari? Oh, tentu saja ADA dan yang rajin seperti itu kebanyakan mahasiswa* perempuan. Hasilnya? Sudah pasti nilai mereka memuaskan.

Dulu kala, mungkin IP 3,00 (grade 4,00) sudah sangat luar biasa. Tapi saat ini, menjadi biasa memiliki IP 3,00 terutama mahasiswa* fisika. Entah karena faktor dosen yang mempermudah, atau memang mahasiswa* saat ini pintar-pintar. Lantas saat ujian pun dulunya sangat menjunjung tinggi kompetisi. Saat ini? Mungkin “demokrasi dan gotong royong” yang diterapkan. Prinsip yang saya maksud di sini mungkin saat ini dengan mudahnya menghilangkan semangat kompetisi karena berprinsip saling bantu, atau keterbukaan yang utama. Bisa saja saat ujian tengok kanan-kiri-depan-belakang untuk mendapatkan jawaban yang orisinil. Meski tidak semua, tapi tetap saja ada segelintir mahasiswa* berprinsip seperti itu. Lebih cepat lebih baik dan lebih efisien, hehehe.

Nah, coba kita bayangkan apabila memang sistem “demokrasi dan gotong royong” dipakai terus oleh mahasiswa* yang notabene agent of change, bukankah justru mahasiswa* akan merubah negara ini menjadi negara penuh plagiat, penuh kecurangan, dan penuh keburukan di berbagai bidang? Mari para mahasiswa* kita renungkan, meski kita tidak ikut secara langsung “turun ke jalan menyuarakan suara rakyat”, kita harus bisa menyuarakan kompetensi kita sebagai mahasiswa. Paling tidak kita mengobarkan sifat dan sikap yang sesuai dengan nilai dan norma negara kita. Percuma Kang, kalau ikut demo (maaf tidak bermaksud mendeskritkan para aktifis) tapi jiwanya tetap tak bisa bersikap jujur dan sportif. Apa kata dunia kalau mahasiswa* Indonesia menjadi “agent of madness” atau “agent of corruption”?? Hehehe, suara hati saya ini.

 

Serat Optik 21 December 2010

Posted by Luthfi in Pendidikan.
Tags: , , , ,
4 comments

Dalam perkembangannya, serat optik tidak hanya digunakan sebagai sarana telekomunikasi tapi juga sebagai sensor. Kelebihan dari serat optik sebagai sensor ini adalah tidak terpengaruh dari radiasi EM, memiliki ketelitian tinggi (dalam orde mikro), penempatan lebih mudah, dan dapat menampung banyak informasi dalam satu serat. Cahaya sebagai carier dari informasi yang memiliki rentang panjang gelombang dan frekuensi tentunya memberikan ukuran bandwith tersendiri tergantung sifat cahaya sumber yang digunakan.

Dalam bidang telekomunikasi, serat optik digunakan sebagai pengganti kabel-kabel telpon atau kabel-kabel data. Misal dalam satu daerah terdapat 500 sambungan telpon dan separuhnya digunakan untuk akses data (internet), bisa saja kabel yang digunakan mencapai dua kali lipat dari sambungan yang ada. Jika menggunakan serat optik untuk jalur telpon, dengan memanfaatkan cahaya dengan berbagai panjang gelombang dalam satu serat, maka bisa menampung dua hingga lima sambungan (digunakan serat optik dengan jumlah berkas sinar lima macam panjang gelombang).

Serat optik terdiri dari dua bagian yaitu bagian inti (core) dan bagian selubung (cladding). Pada bagian inti memiliki indeks bias yang lebih besar dibandingkan indeks bias selubung supaya terjadi pemantulan internal total berkas sinar yang digunakan. Berdasarkan struktur indeks biasnya, serat optik dibedakan menjadi dua yaitu serat optik step index dan serat optik graded index. Serat optik step index memiliki inti yang berindeks bias seragam atau sama. Sedangkan pada graded index memiliki indeks bias menurun secara gradual dari sumbu inti sampai bidang batas selubung. Dalam fabrikasi, serat optik ditambahkan pelindung yang biasa disebut dengan jaket (coating).



Berdasarkan jumlah moda gelombang yang terpandu dalam serat optik, bisa dibedakan menjadi serat optik singlemode jika moda yang dipandu hanya satu gelombang dan serat optik multimode jika yang terpandu lebih dari satu gelombang. Dalam penjabaran mekanisme perambatan cahaya pada serat optik, biasanya dijelaskan berdasarkan teori sinar.

Berdasarkan prinsip Snellius

Dengan n adalah indeks bias udara, n1 indeks bias inti (core). Indeks bias udara sebesar 1, maka

Kemudian perambatan sinar antara inti (core) dengan selubung (cladding)

Supaya terjadi pemantulan internal total, maka θ4 harus sebesar π/2. Dengan demikian

Atau θ3 biasa disebut dengan sudut kritis ϕc.

Dengan demikian agar sinar dapat terpandu pada core, sudut masukannya

Atau


Biasanya persamaan terakhir disebut sebagai tingkap numeris (numeric aperture, NA).