jump to navigation

Rinduku 22 November 2010

Posted by Luthfi in Curhat.
add a comment

Sudah beberapa hari ini atau bahkan beberapa minggu ini aku merasa sangat sulit untuk memandangmu. Atau hanya sekedar menanyakan keadaanmu, tugas akhirmu, kesibukanmu secara langsung. Walau aku tak tahu secara langsung apa yang terjadi pada dirimu karena keluargamu, tapi aku merasa sudah menjadi satu hati dengan dirimu. Tapi sayang, perasaan itu hanya ada pada perasaanku bukan di perasaanmu.

Rindu ingin bicara, bercanda, ngobrol banyak hal, cerita dengan kamu, sangat rindu. Mungkin karena permasalahanmu sehingga kamu kurang begitu merasakan kegalauan hatiku. Tapi bukan berarti engkau kehilangan perasaan cintamu terhadapku, aku yakin itu dan aku percaya itu. Engkau sudah pernah bilang “pasti datang” saat aku menanyakan tentang menunggumu. Dan tentu aku yakini itu.

Anganku hanya sebatas angan. Untuk saat ini memang aku bukan siapa-siapamu. Aku bukan sahabatmu, aku bukan pacarmu, aku bukan saudaramu. Saat ini hanya sebatas teman meski pernah aku menjadi pacarmu. Sulit menerima keadaan itu, tapi begitulah hasilnya atas kebodohan, kekerasan, keegoisan dariku. Setiap detik yang ada dalam pikiranku dan perasaanku hanyalah namamu dan namamu. Entah, mungkin sudah pantas aku masuk rumah sakit jiwa atau hanya konsultasi ke psikiater.

Saat ini aku menjadi jauh lebih minder hanya untuk berkunjung ke rumahmu. Entah apa penyebabnya, tapi aku merasakan itu walau dengan seribu teman datang ke rumahmu. Aku juga menjadi lebih takut saat ingin berencana datang ke rumahmu. Seakan dirimu berada di balik tembok yang sangat-sangat tebal. Ah tentu bukan tembok raksasa cina atau tembok pemisah jerman barat dan jerman timur. Tapi penghalang ini terasa begitu nyata seakan-akan membuatku lemas tak bisa bernafas. Aku di surabaya memang tak memiliki apa-apa kecuali baju untuk kuliah, handphone untuk komunikasi dengan orang rumah, dan sebuah laptop yang sehari-harinya aku gunakan untuk memutar musik, main counter strike dan mengerjakan tugas kuliah (kalau toh harus diketik). Kosku pun hanya berukuran 3×3 meter, biasanya banjir saat hujan lebat mengguyur mulyorejo hasilnya biaya kos pun paling murah jika dibandingkan dengan kos-kos lain di sekitar kampus. Saat ke kampus aku hanya mengandalkan otot-otot kakiku. Tak ada setetes bensin untuk menggunakan sepeda motor karena memang aku tak menggunakan motor. Meski ada satu motor di rumah, tapi itu satu-satunya harta keluargaku yang bisa digunakan bapakku mengajar di sekolah dasar. Hasilnya, dengan memanfaatkan teman-teman kuliah dengan cara meminjam sepeda motor atau minta ditemani untuk ke rumahmu. Selain itu, aku pun tak bisa mengajakmu keluar jalan-jalan meski engkau sering mengajakku.

Beberapa waktu yang lalu kamu pun sudah tahu tentang kebiasaan burukku, yang memanfaatkan ce-esan im3 aku menceritakannya padamu. Aku berani menceritakannya karena memang aku tak ingin engkau kecewa saat tahu aku, pacarmu, memiliki perilaku buruk. Karena itulah aku tak ingin engkau salah menilaiku yang sepertinya alim, baik, pintar, dan sebagainya. Aku tak sebaik yang engkau pikirkan. Atau mungkin aku jauh lebih kotor dari teman-temanmu yang lain. Aku tak mengharapkan belas kasihmu setelah menceritakannya padamu. Aku hanya mengharapkan engkau tak salah orang untuk menjadikan aku pacarmu untuk kedua kalinya. Aku akui itu, masih banyak laki-laki yang mendekatimu  jauh lebih baik dariku.

Setiap ada waktu aku berusaha mengajakmu ngobrol, makan di kantin, atau ke perpus. Bukan karena ingin kamu perhatikan tapi lebih pada rinduku padamu. Ternyata di saat yang sama engkau sedang menemani sahabatmu. Saat itu aku tak ingin mengganggu acaramu. Lebih baik aku mundur daripada memaksamu ikut denganku, menurutku. Sesungguhnya setiap aku mengajakmu aku ingin hanya kamu dan aku. Tapi memang bagusnya ada orang ketiga agar tak timbul fitnah. Meski demikian, sungguh perasaanku sudah terlalu cinta, sayang, dan rindu akan dirimu. Saat engkau tanya “sudah makan? Ni aku sama si-X mau makan di kantin?” dengan X adalah nama orang sembarang, dengan sengaja aku jawab “sudah” meski sebetulnya ingin sekali bisa makan hanya dengan kamu. Aku sadari itu, karena itulah aku tak akan mengganggu waktumu dengan si-X.

Pernah aku bermimpi pada waktu kelulusanku (wisuda—karena termotivasi teman kos yang sudah wisuda). Di saat itu aku merasa orang yang paling berharga bagiku ikut dalam acara sakral itu. Bapak-ibuku dan dirimu. Saat itu hanya perasaan gembira dan bangga akan kelulusanku dan dirimu. Entah setan apa yang menghinggapi alam bawah sadarku hingga bisa bermimpi sedemikian detail perasaan yang muncul. Saat di luar auditorium, seakan engkau sedang mendekap erat tanganku dan membisikkan kalimat “aku bahagia bisa membuktikan pada orang tuaku bahwa aku bisa menyelesaikan tugas akhirku”. Yah, aku tak tahu apa yang membawa dirimu ada di mimpiku. Dan itu tidak satu kali.

Seringkali aku menyakitimu, entah karena kata-kata di smsku ataupun pembicaraan di telpon. Mungkin secara tak sengaja itu lah diriku. Tapi saat ini, aku sengaja membuatmu membenciku supaya aku menghilangkan perasaanku atas dirimu. Bukan karena perasaan cintaku padamu hilang, tapi aku tak ingin perasaan cintaku ini seringkali membuatmu sakit hati. Pernah aku sakit hati karenamu yang menyebabkan beberapa jam aku bisa lupa dengan dirimu. Karena itu, entah bagaimana aku bisa memiliki ide untuk memintamu sesering mungkin membuatku sakit hati. Ini salah satu cara saja supaya aku tidak terlalu berharap lebih engkau akan memperhatikan perasaanku. Yang selalu membuatku merasa sakit ketika banyak orang masih beranggapan bahwa aku masih pacarmu. Dan itu pun jauh dari kenyataan. Aku bukan pacarmu. Dan sepertinya aku juga bukan teman yang baik untukmu. Kalau pun dirimu tahu, setiap aku merasa rindu padamu dan tak ada respon darimu, aku selalu ingin menangis. Tentu saja tak secara langsung tangisanku. Sesak di dada, betul-betul sesak. Dalam anganku yang kotor, ingin sekali aku bisa memegang tanganmu atau mendekapmu untuk menunjukkan ingin sekali aku membuatmu nyaman sehingga akan lebih terasa ringan saat engkau menghadapi masalah. Tapi aku bukan laki-laki romantis. Karena itulah, aku hanya bisa merasa sesak saat tak bisa bersamamu meski sebatas ngobrol.

Cerita Jakarta 2 May 2010

Posted by Luthfi in cuap-cuap, Curhat.
add a comment

Perjalanan yang benar-benar menarik. Begitulah yang terasa semenjak tanggal 26 April. Tiga orang cowok melakukan perjalanan ke Jakarta dalam rangka liburan gratis dengan menggunakan kereta Argo Anggrek, Surabaya Pasar Turi-Gambir.  Aku sebut tiga cowok? Yah, memang begitu karena salah satunya adalah Boz Geng WeRaVeSUFi meski dia “cewek”. Perjalanan kali ini terasa sangat bebas karena “Beliaunya” tidak ikut bersama kami dengan kereta. Alhasil, tanpa buka buku dan sebagainya tiga cowok ini hanya bercanda-canda. Tidak begitu banyak kegiatan yang dilakukan di dalam kereta, sesekali hanya minum Green Tea yang dibelikan Ginanjar dan hasilnya,Luthfi, bolak-balik ke kamar mandi (ups..kayaknya gak perlu dipublikasikan yang ini). Saat tiba di stasiun Jatinegara, “beliaunya” menelpon si Boz menanyakan sampai mana dan rencananya bagaimana setelah sampai di Gambir. Dengan berat hati (karena tak terbiasa bohong) akhirnya si Boz menjawab,

“ Kami jalan-jalan di Monas, Pak”

Tak lama  kemudian telpon berakhir, dengan senyum yang tidak kecut, si Boz bilang kalau “beliaunya” mengijinkan kita jalan-jalan ke monas. Hahahaha…. SemangaT!!!!

Dengan wajah kusut karena tidak mandi ( meski si Boz memakai pembersih wajah), mereka bertiga berjalan seperti orang “nyasar” menuju MoNas. Apa yang pertamakali dilakukan? Sudah pasti mengabadikan wajah-wajah mereka dengan background Monumen Nasional. Gila, sarap!!!! Tanpa malu, mereka berfoto-foto ria meski di sekitarnya banyak orang dengan bahasa aneh (kamera digitalnya keren). Dengan uang sekitar 15ribu per orang sudah bisa melihat-lihat kota Jakarta dari puncak Monas. Tentu saja kegiatan narsis tetap tidak ditinggalkan. Dengan wajah sangat-sangat kusut (karena kepanasan, gak beda jauh dari surabaya),dengan terpaksa mereka sarapan PopMie (padahal sudah jam 10 pagi) karena kelihatannya tidak ada warung nasi di bawah 10ribu di sekitar Monas. Meski sebenarnya ada uang (uang saku dari rektorat), tapi perjalanan kita belum sampai di senayan!!! Finally, dengan taxi BlueBird mereka bertiga berangkat ke Hotel Century  ( apa mungkin nama ini terkait dengan kasus Bank Century??) yang cukup dengan uang 30ribu.

# Mulai dari paragraf ini, subjeknya adalah Aku.

Aku dan Ginanjar mendapatkan kamar 520 sedangkan si Boz di kamar 518 bersama orang Ambon. Lebih kerennya, ternyata yang sekamar denganku orang dari Malang yang dulunya pernah menjuarai OsN PTI. Wah, jadi ikut suasana belajar dan belajar ( hanya berlaku bagi Ginanjar). Aku? Tentu saja dengan pD, aku memutar lagu-lagu lawas (copas dari Eriek dan P Sam) di lanjutkan dengan tidur.

Selama di hotel, target utama adalah memperbaiki gizi!!

Kegiatan yang kulakukan selama di hotel : makan-minum,naik-turun dengan lift (kali pertama naik lift hotel), mandi dengan shower air hangat hingga setengah jam, liat tv, mendengarkan mp3. Selain itu dengan terpaksa ikut pembinaan dengan dosen di kamar 521. Seusai tes di hari kedua, si Boz jalan-jalan ke mall dengan kawan sekamarnya dan Ginanjar jalan-jalan ke mall dengan orang-orang keren. Aku? Hahaha, sudah pasti lihat tV sepuasnya (coz di kozanku gak ada tv) sambil terima telpon dari *** ( cencored).

Jumat, 30 April 2010. Hari yang sangat menyenangkan. Pertama kalinya ke pantai Ancol, dan ternyata sama saja dengan di Kenjeran. Tapi yang lebih seru saat masuk di DuFan. Wahana permainannya jauh lebih banyak jika dibandingkan di JatimPark dan lebih membuat jantungan. Detailnya? Karena terlalu menyenangkan maka tak bisa diutarakan dengan kata-kata via cerita ini.

Karena sudah kusut dan sebagainya, sesampainya di kamar hotel langsung aku yang mandi terlebih dahulu. Gila, aku mandi dari jam 6 kurang sampai jam setengah tujuh lebih. Wow, setengah jam lebih aku mandi. Akibatnya? Aku, Ginanjar, Hesky (teman dari UB) terlambat makan malam di gedung Dikti. Tapi, keterlambatan membawa berkah. Ginanjar dan si Boz mendapatkan juara 2. Keren gak?? So pasti keren. Tentu saja “ beliaunya” langsung semangat minta foto-foto sendiri di bagian belakang aula meski acara penutupan yang dihadiri wakil mendiknas belum usai.

Saat yang sangat-sangat menyenangkan bagiku, ternyata aku pulang ke surabaya via pesawat. Subhanallah… Subhanallah… Baru kali ini aku bisa merasakan naik logam yang bisa terbang. Rasanya??? Hmmm.. Sulit sekali dideskripsikan. Hahaha.. Waktu check out dari hotel jam 4 pagi, pesawat berangkat jam 7 pagi dan sampai di surabaya jam 08.20. Sesampainya di Juanda, aku menunggu seseorang yang sudah bersedia menjemput aku. Karena aku belum sarapan ditambah lagi terlambat makan malam (sesaat sebelum penutupan), dia bersedia menemaniku makan. Satu porsi rawon bisa kuhabiskan. Hahaha… Yah, itu makanan favoritku, rawon!!!

Sesampainya di koz, kembali ke peradaban ( tanpa ac, tv, dan shower) dilanjutkan dengan tidur pulas, pulas, dan pulas. Next, main CS dan DoTa yang hampir seminggu kutinggalkan. Hahaha…

Arti ? 7 January 2009

Posted by Luthfi in Curhat.
3 comments

Solusi dari kedua teman saya adalah biarkan rasa itu ada dalam diri kita. Namun saya memiliki cara berbeda untuk mengakali keadaan tersebut. Sebelumnya saya ingin menyampaikan kalau saya pernah merasakan rasa itu pada saat dan waktu yang sangat tidak tepat. Seringkali saya merasa jatuh cinta ketika saya beberapa waktu sebelum saya mengikuti ujian akhir baik sewaktu di SMA ataupun sudah masa kuliah seperti sekarang. Sebenarnya saya cukup senang dengan adanya si dia di pikiran dan hati saya, tapi sayang rasa jatuh cinta saya sangat teramat mengganggu konsentrasi saya untuk menghadapi ujian akhir. Bisa ditebak, nilai saya hancur berantakan..!!
Sangat menyesal jika saya dihinggapi rasa jatuh cinta, karena tidak tahu kenapa datangnya disaat yang sangat tidak tepat. Oleh karena itu, ketika saya mulai merasakan si cinta dengan secepat kilat harus dihentikan. Mungkin keputusan saya cukup membingungkan si dia, karena saya akan menyampaikan ke dia (lewat sms) untuk sangat membenci saya. Selain itu, saya juga akan bersikap sangat arogan pada dia dan se-judes-judesnya saya ke dia. Cukup membingungkan bagi si dia, tapi sedikit berhasil bagi saya. Saya katakan sedikit karena saya benar-benar tidak tahu apakah yang datang pada hati saya adalah kebenaran jatuh cinta atau hanya sebuah nafsu, keinginan untuk memiliki si dia.