jump to navigation

Kepemimpinan 22 February 2009

Posted by Luthfi in Brigip Masda, Comment, Pendidikan.
1 comment so far

Sebagaimana yang sudah saya baca, kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk mengatur, mempengaruhi orang lain untuk melaksanakan apa yang diinginkan. Secara umum, kepemimpinan merupakan sikap kita dalam bertindak sebijaksana dan seadil mungkin. Mungkin materi kepemimpinan sudah menggema di kehidupan organisasi baik sejak SMP hingga dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tapi penerapan dari kepemimpinan itu sendiri masih sangat kurang.

Misal seorang pemateri memberikan materi tentang bagaimana me-manage organisasi dengan baik. Namun dalam keseharian dari si pemateri, tidak tercermin sedikitpun dia me-manage kesehariannya. Contoh lain, seorang birokrat yang ada dalam pemerintahan tertangkap polisi karena terjerat kasus korupsi. Di organisasi telah ada peraturan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, namun faktanya kata-kata yang kotor,keras tetap saja ada. Lantas di manakah kepemimpinan orang tersebut?

Tipe-tipe kepemimpinan yang ada antara lain :
1.    Demokratis, pemimpin yang memperhatikan suara bawahanya dalam mengambil keputusan
2.    Paternalitas, pemimpin yang tidak memberikan kesempatan pada bawahannya karena merasa bawahannya masih perlu belajar banyak
3.    Otokratis, pemimpin yang selalu otoriter dan diktator dalam memimpin
4.    Pemimpin yang bersifat acuh tak acuh, sama sekali tidak memperhatikan keadaan organisasinya
Termasuk tipe kepemimpinan yang mana kita? Tipe di atas hanya beberapa dari sekian banyak teori kepemimpinan dalam berorganisasi. Lantas apakah sudah merasuk di dalam sanubari kita tentang esensi kepemimpinan itu sendiri?

Memang untuk dapat mengerti bagaimana kepemimpinan itu dibutuhkan banyak waktu serta latihan. Di manakah “Kawah Candradimuka” untuk melatihnya? ORGANISASI. Sungguh ironi jika di lingkungan kita khususnya di lingkungan pendidikan ada organisasi internal maupun ekstrakurikuler tapi kita tidak memanfaatkannya. Mungkin banyak orang tua yang berasumsi bahwa sekolah hanya untuk mendapatkan ilmu akademik dan ber-organisasi bisa menurunkan prestasi akademik. Menurut saya, IYA demikian yang pasti terjadi ketika kita kurang maksimal me-manage kegiatan kita baik untuk akademik maupun non-akademik. Justru akan terjadi sebaliknya jika kita bisa optimal membagi kegiatan kita, yakni prestasi akademik akan naik dengan adanya tambahan ilmu dari organisasi. Bagaimana mungkin bisa menambah nilai akademik? Di organisasi dilatih untuk dapat berbicara lancar, menyampaikan pendapat, dan berdebat dengan anggota lain. Dalam penilaian akademik, tidak hanya dari ujian tertulis (nilai kognitif), tapi juga ketrampilan (psikomotor) dan sopan santun (afektif) mendapatkan perhatian penuh dari guru maupun dosen. Ketrampilan di sini tidak hanya dalam “praktikum”, tapi juga kelancaran kita sewaktu menyampaikan pendapat. Dan saya rasa cukup beralasan jika kita menuntut sukses di bidang pendidikan maupun di dunia kerja dengan didasari ilmu akademik dan non-akademik.

Meski sebagian besar orang tua di Indonesia masih menganggap berorganisasi bagi anak-anaknya sangat menggangu belajarnya si anak, baik pemerintah maupun teman-teman yang sudah aktif di organisasi hendaknya bisa membantu teman-teman yang masih belum sepenuhnya mengerti ilmu non-akademik untuk bersedia bergabung dan pemerintah bisa memaksimalkan organisasi sekolah untuk membentuk calon-calon penerus bangsa yang berkualitas agar tidak ada pelaku-pelaku KKN. Serta sedikit harapan untuk seluruh orang tua, mari kita maksimalkan kemampuan putra-putri kita dalam menuntut ilmu sehingga mereka bisa layak menjadi anggota masyarakat yang berkualitas.

Ponari, Dukun Cilik?? 18 February 2009

Posted by Luthfi in Comment, cuap-cuap, Pendidikan.
Tags: , , , , ,
add a comment

Saat ini seantero Indonesia sedang gempar dengan berita “Ponari si Dukun Cilik”. Begitu mencengangkan, meski masih usia  SD, Ponari telah menjadi anak yang terkenal hanya dalam beberapa hari saja. Tak ayal karena sambaran petir dan batu ajaibnya, kini dia menjadi terkenal, pasalnya dengan batu ajaibnya itu, dia bisa menyembuhkan orang sakit. Anak asal kecamatan Megaluh, Jombang mengaku bahwa dia mendapatkan batu ajaib tersebut sesaat setelah dia terkena sambaran petir. Alhasil, kini dia memiliki kekuatan dan batu yang luar biasa.

Banyak pro dan kontra atas kejadian ini. Coba Anda bayangkan, dalam beberapa hari sudah menelan korban jiwa karena antre berdesak-desakan. Keajaiban dari batu tersebut mungkin bisa disebabkan dari kandungan dari batu tersebut seperti mineral. Jika si pasien mengalami sakit yang diakibatkan kekurangan mineral, seperti rematik, bisa saja kandungan dari batu tersebut bisa membantu memulihkan penyakit tersebut. Namun pendapat ini perlu adanya pengkajian lebih lanjut, bisa saja kandungan batu tersebut dapat menyembuhkan penyakit yang lain. Begitu jika dilihat dari sudut pandang ilmiah.

Jika memang Tuhan berkehendak, pucuk ranting pun bisa menjadi obat. Demikianlah yang bisa dijelaskan dari pandangan agama. Apapun yang terjadi, perlu adanya kesadaran akan kekuatan Tuhan. Tetapi akan menjadi sangat berbahaya disaat men-Tuhan-kan batu sebagai satu-satunya obat alternatif. Tindakan para pasien dukun tersebut sudah berada di luar nalar dan akal sehat. Meski praktik pengobatan Ponari sudah ditutup, tetap saja mereka berdatangan. Dan gilanya lagi, air sumur dan lumpur dari kamar mandi Ponari dianggap memiliki “Yoni” atau keajaiban yang sama dengan batu ajaib milik Ponari tersebut. Bagaimana bisa sedikit hilang akal sehat para “pasien” ini?

Dilatarbelakangi ketidakmampuan biaya untuk berobat ke dokter, atau sudah sedikit tidak percaya dengan resep dokter, pasien-pasien ini tetap ngotot datang ke rumah Ponari. Mereka yang notabene masih sangat dekat dengan hal-hal yang berbau gaib, tentu tidak akan ambil pusing untuk datang ke dukun cilik ini. Sehingga, bisa dikatakan bahwa kebanyakan rakyat Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan, tidak begitu percaya dengan fasilitas yang diberikan pemerintah. Mungkinkah kejadian ini menjadi tanda bahwa begitu setengah hati pemerintah mengentaskan kemiskinan? Atau mungkin kejadian ini dipolitisi oknum-oknum pejabat?

Alangkah baiknya jika pengobatan alternatif dipandang sebagai pengobatan tambahan selain pengobatan ke dokter. Selain itu juga hendaknya masyarakat bisa memilah-milah tingkah lakunya apakah sesuai atau bertentangan dengan norma agama dan norma sosial. Sehingga, perlu adanya dukungan dari pemerintah, pemuka agama untuk membantu pengembangan moral-agama dari seluruh rakyat di Indonesia agar tidak terjadi “atheis”.

Kurikulum Vs UAN 11 February 2009

Posted by Luthfi in Anak,Curhat, Comment, cuap-cuap, Pendidikan.
Tags: , , , , , ,
1 comment so far

Sudah beberapa waktu ini kurikulum pendidikan KTSP berlangsung. Syarat ketuntasan dalam kurikulum ini adalah seberapa KD (Kompetensi Dasar) yang dicapai pada setiap semesternya. Di sini, peran aktif guru dalam melaksanakan satuan pendidikan sangat besar. Bayangkan jika seorang guru mata pelajaran tidak cukup tanggap dalam mengolah kegiatan belajar mengajar sebagaimana yang sudah diberikan pedoman dari Dept.Diknas. Pasti akan sangat banyak siswa yang tinggal kelas.

Di banyak elemen masyarakat, telah timbul pertanyaan “Seberapa efektifkah kurikulum KTSP jika dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya?”. Meski pada kurikulum KTSP memberikan kemerdekaan kepada setiap guru dalam menilai ketuntasan peserta didik, tetap saja banyak guru yang masih belum begitu paham  mengenai kurikulum sekarang. Sehingga di beberapa tempat terjadi tumpang tindih tugas dan wewenang guru yang bersangkutan. Selain itu, beberapa guru yang sudah saya temui mengatakan bahwa saat ini terjadi degenerasi pendidikan. Jika dikatakan bahwa KTSP adalah kurikulum pendidikan, sungguh kurang tepat. Lebih pantas jika disebut sebagai kurikulum pengajaran, yakni berorientasi pada nilai kognitif.

Hampir 4 tahun ini, Indonesia telah berganti kerikulum dua kali, yang pertama KBK dan yang terakhir adalah KTSP. Dan hampir empat tahun ini, tetap saja pengeksekusi akhir kelulusan siswa adalah UJIAN NASIONAL. Jika dilihat dari berbagai referensi, jumlah siswa yang tidak lulus sudah menurun disaat penggunaan kurikulum KTSP dibandingkan selama menggunakan KBK. Meski demikian, dengan bertambahnya nilai minimal kelulusan belum berarti bertambahnya kualitas pendidikan di Indonesia. Sebagaimana yang saya sebutkan sebelumnya, bahwa saat ini cenderung berorientasi pada nilai. Meski begitu sistematis kurikulum dibuat dan begitu jelas skema kerjanya, tetap saja penentu kelulusan adalah ujian beberapa hari. Apakah sebanding dengan kerja keras siswa bertahun-tahun (SD,SMP,SMA) diganjar denga beberapa hari Ujian Nasional??

Tulisan ini tidak bermaksud untuk menyalahkan pemerintah dalam hal ini Diknas, maupun menggurui orang lain atau memprovokasi masyarakat umum. Alangkah baiknya tulisan ini menjadi salah satu bahan pertimbangan untuk kemajuan pendidikan di Indonesia.