Stadium generale technoscience SQ
Oleh Dr. Ing. H. Fahmi Amhar
Sabtu,15 Maret 2008
UNAIR
Memberikan motivasi kepada mahasiswa,merupakan salah satu tujuan dari acara stadium generale TSQ yang disampaikan oleh Bapak Abdul Latief. Kegiatan ini juga diharapkan dapat mendukung visi UNAIR yaitu kemandirian, unggul, inovasi, dan moral agama. Rentetan acara ini dimulai oleh Pak Fahmi dengan memberikan motivasi kepada seluruh peserta TSQ.
Dimulai dari hutang Negara yang sebesar 1400 trilyun, beliau memberikan gambaran keadaan Indonesia saat ini. Selain itu, beliau juga menunjukkan kejadian di Afganistan. Dari korban luka-luka hingga anak yang kehilangan keluarganya. Kejadian di Afganistan,salah satunya karena teknologi yang berupa “ senjata “. Teknologi ini diciptakan Albert Einstein melalui makalah “annomirabilus” yaitu :
- Efek Fotolistrik
- Teori Relativitas Khusus
- Kesataraan
- Teori Relativitas
Selain dari teknologi, beliau juga menjelaskan bahwa pemodal terbesar untuk manusia adalah Tuhan. Jika kita perhatikan, biaya untuk cuci darah 3 hari sekali sebesar 1 juta, tapi Allah telah memberikan ginjal kepada manusia. Biaya ICU di USA US$ 10.000/day. Jika misal kita sakit,bukankah biayanya akan sangat besar? Lantas siapa yang akan membiayai pengobatan tersebut? Allah telah memberikan harga yang tidak ada bandingnya. Tubuh terdiri atas ± 1 trilyun sel,tiap sel memiliki 23 pasang kromosom dan tiap kromosom terdiri atas 3 milyar DNA.
“ Jika sanggup menjelajahi penjuru langit dan bumi,maka lintasilah (namun) kamu tidak bisa menembusnya kecuali dengan kekuatan”(QS Ar Rahman : 33)
Dari potongan ayat dari QS Ar Rahman di atas,Allah telah memberikan motivasi yang berupa tantangan untuk mengetahui ilmu yang ada di alam semesta. Dan untuk mencapainya,dibutuhkan ilmu pengetahuan. Salah satu hal yang saat ini sudah ditemukan,bahwa tanah mengalami pergerakan 5 cm/tahun diketahui dari pemasangan GPS.
Kemudian dalam pencapaian tingkat pendidikan,dalam survey dengan gelar M.Sc : Yahudi (Israel) 13.500 orang,sedangkan Indonesia hanya 74 orang. Perbandingan ini cukup dijadikan pemacu semangat kita,warga Indonesia,untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya. Rosul pun telah menyuruh umat Islam berburu ilmu ke negeri Cina (jarak Madinah-Cina ± 8000 km) dalam artian bahwa kita menuntut ilmu bukan hanya di lingkup sendiri tapi seluruh ilmu pengetahuan. Dari perintah Rosul tersebut,muncul iklim riset dan cinta sains di masyarakat Madinah,sehingga saling berebut untuk pengembangan dan memasyarakatkan sains.
Setelah Pak Fahmi memberikan motivasi yang begitu hebat,dilanjutkan dengan penalaran berbagai masalah. Macam penalaran :
1. Deduktif bersifat subjektif yang benar
2. Naratif penalaran dari penyampaian bernilai benar
3. Induktif penalaran dengan pengambilan kesimpulan
Dari penalaran-penalaran tersebut maka dapat memunculkan suatu inovasi atau ide baru. Dari berbagai inovasi dapat membangkitkan epistemology yaitu kreativitas ilmiah. Inovasi-inovasi tersebut yang timbul dari inspirasi. Thomas Alfa Edison menyatakan bahwa 1% inspirasi dan 99% adalah kerja keras. Oleh karena itu,setelah kita terinspirasi langkah selanjutnya adalah :
1. Proaktif
2. Membaca alam
3. Mendengarkan nurani
4. Fokus pada visi
5. Menetapkan prioritas
6. Memgang teguh pada komitmen
7. Bergaul dengan orang-orang sukses
8. Terus menerus mengoreksi diri
9. Tawakal atas yang diluar kendali kita
Dari penjelasan di atas,maka kita harus “BERUBAH 1% DALAM SEHARI”sehingga tanggung jawab kita,ilmuwan,untuk memberikan perubahan yang lebih baik dan bermanfaat.
Ditulis oleh pipix
Ditulis oleh pipix
Kurikulum Vs UAN
11 Februari 2009Sudah beberapa waktu ini kurikulum pendidikan KTSP berlangsung. Syarat ketuntasan dalam kurikulum ini adalah seberapa KD (Kompetensi Dasar) yang dicapai pada setiap semesternya. Di sini, peran aktif guru dalam melaksanakan satuan pendidikan sangat besar. Bayangkan jika seorang guru mata pelajaran tidak cukup tanggap dalam mengolah kegiatan belajar mengajar sebagaimana yang sudah diberikan pedoman dari Dept.Diknas. Pasti akan sangat banyak siswa yang tinggal kelas.
Di banyak elemen masyarakat, telah timbul pertanyaan “Seberapa efektifkah kurikulum KTSP jika dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya?”. Meski pada kurikulum KTSP memberikan kemerdekaan kepada setiap guru dalam menilai ketuntasan peserta didik, tetap saja banyak guru yang masih belum begitu paham mengenai kurikulum sekarang. Sehingga di beberapa tempat terjadi tumpang tindih tugas dan wewenang guru yang bersangkutan. Selain itu, beberapa guru yang sudah saya temui mengatakan bahwa saat ini terjadi degenerasi pendidikan. Jika dikatakan bahwa KTSP adalah kurikulum pendidikan, sungguh kurang tepat. Lebih pantas jika disebut sebagai kurikulum pengajaran, yakni berorientasi pada nilai kognitif.
Hampir 4 tahun ini, Indonesia telah berganti kerikulum dua kali, yang pertama KBK dan yang terakhir adalah KTSP. Dan hampir empat tahun ini, tetap saja pengeksekusi akhir kelulusan siswa adalah UJIAN NASIONAL. Jika dilihat dari berbagai referensi, jumlah siswa yang tidak lulus sudah menurun disaat penggunaan kurikulum KTSP dibandingkan selama menggunakan KBK. Meski demikian, dengan bertambahnya nilai minimal kelulusan belum berarti bertambahnya kualitas pendidikan di Indonesia. Sebagaimana yang saya sebutkan sebelumnya, bahwa saat ini cenderung berorientasi pada nilai. Meski begitu sistematis kurikulum dibuat dan begitu jelas skema kerjanya, tetap saja penentu kelulusan adalah ujian beberapa hari. Apakah sebanding dengan kerja keras siswa bertahun-tahun (SD,SMP,SMA) diganjar denga beberapa hari Ujian Nasional??
Tulisan ini tidak bermaksud untuk menyalahkan pemerintah dalam hal ini Diknas, maupun menggurui orang lain atau memprovokasi masyarakat umum. Alangkah baiknya tulisan ini menjadi salah satu bahan pertimbangan untuk kemajuan pendidikan di Indonesia.