Puisiku

Begitu banyak teman-temanku mengenal akan cinta. Mengenal akan pacar dan kekasih. Entah mereka tahu atau berlagak tak tahu. Begitu keadaan orang berkasih,bagai pisau bermata dua,bagai telur di ujung tanduk. Entah sadar atau tidak,mencari cinta sejati bagai mencari jarum di tumpuk jerami…..
Kubekukan hatiku akan sebuah cinta,sebuah kekasih. Walau begitu banyak keluar masuk hatiku. Apakah aku benar ? Ataukah aku salah ?
Hanya Tuhan yang Maha Mengetahui

Tanpa disadari,tanpa kuketahui,berjalan seiring waktu. Hanya bisa merenungi tanpa bisa ku melangkah. Semakin sempit,semakin sedikit waktu kumiliki. Akhir-akhir ini mengapa ku memikirkan,selalu terngiang akan kematian. Apa hanya sebuah rasa? Ataukah kekhawatiran semata?
Bagaimana aku menghadapinya? Apa harus aku menghindar? Ataukah aku menyerah?….Oh…Tuhan…..Berikan aku kesempatan,berikan aku kekuatan. Hanya kepada-Mu aku memohon. Dan hanya kepada-Mu akau berharap. Ampuni semua dosa-dosaku..Oh..Tuhan.. Ampuni semua kesalahan,kelemahan,kekhilafan hamba-Mu ini….

Ribuan pendapat. Jutaan mata memandang. Seakan tak pernah percaya. Penuh kekaguman atau hanya sebuah hinaan. Begitukah yang sering kuketahui? Sebuah kerusakan,kehancuran moral,kemusnahan akhlak. Tak terbendung… tak tertutupi…
Entah karena malu? Hanya sebuah aib? Ataukah sifat asli dari manusia. Manusiawikah ?…Berkasih-kasih penuh dalam kemaksiatan. Tanpa persiapan yang matang,rasa sesal di akhir. Bagai kisah sinetron dan novel. Kebodohan manusia,kelemahan manusia. Senantiasa bermain. api,tak kan terhindar pula terkena olehnya.
Ya..Tuhanku
Lindungi aku dari segala kemaksiatan…Lindungi aku dari segala kemunafikan di dunia

Kenapa ku tak bisa memulai? Atau memang tak bisa dimulai? Ingin hati ini kubekukan,kudiamkan,kututup,kuhilangkan,kumusnahkan semua rasa,hanya menambah sesak di dada.
Jika kita mencintai yang lain,mungkinkah hati ini akan tegar…tenang…
Hanya sebuah syair,berupa untaian kata yang mudah terucap. Tapi tak semudah membalik telapak tangan. Kebimbangan…Kegoncangan…Kini ku rasa.
Pencarian jati diri atau hanya idealis. Penuh kebohongan,penuh kedustaan kurasa.

Begitu banyak orang berjuang demi Negara. Memperjuangkan kemerdekaan. Mengharapkan kemerdekaan. Berceceran darah mereka korbankan untuk Indonesia.
Merdeka..!! Merdeka..!!
Dikumandangkan seluruh penjuru tanah air. Yang diidam-idamkan rakyat Indonesia.
Hampir 63 tahun Indonesia merdeka. Generasi penerus mengisi kemerdekaan. Mempertahankan,menjaga kemerdekaan bangsa. Petani,buruh,pengusaha,pelajar,mahasiswa,cendekiawan meramaikan paradigma kemerdekaan. Tak semua demi Negara. Banyak pula untuk kantong-kantong pribadi. Tikus-tikus politik merajai seluruh aspek pembangunan. Bukan hanya politik,semua bentuk kehidupan mereka kuasai..
Krisis ekonomi melanda. Kemlaratan,kemiskinan bagai cendawan di musim hujan. Sorakan-sorakan memperjuangkan hak. Tuntutan-tuntutan dilontarkan. Bukan dengan tangan terbuka mereka diterima. Namun anarkis yang ada. Semua pelajar berusaha meraih yang dicita-citakan. Belum mereka tahu akan kehinaan hidup. Putih bersih tak sedikitpun noda diisi dengan kebaikan,kepatriotan,kepemimpinan,kejujuran. Yang ada rongrongan dari dalam. Narkoba,kriminal,menggerogoti pendidikan.
Mau dijadikan apa Indonesiaku? Haruskah kuberpangkutangan melihat kebobrokan birokat-birokrat Negara ini? Bermacam masalah datang silih berganti. Bencana alam berduyung-duyung menghantam negaraku. Hancurkah negaraku? Ingin ku seperti pahlawan yang rela segalanya demi Indonesia. Namun apa daya bagiku. Tak ada dukungan! Tak ada semangat berjuang! Teman-temanku,orang di sekitarku hanya bisa menghardik!! Kapankah Indonesiaku merdeka seutuhnya……?

Kutemukan semuanya,kusadari,kurelakan,kuakui..Tak perlu menyakiti diri. Hanya merusak diri. Semua beban yang terasa berat,kini kulepas,kubuang,kuhilangkan semua. Tak ada sesal yang kulakukan. Semua tuk satu jawaban,teman…? Sahabat…? Atau…?
Begitu berat,susah arti dari kata mencintai….dicintai…dan tercinta….
Tak seindah cinta yang kurasa. Begitu besar kumencintai. Terasa bangga ku dicintai. Semua kurasa yang tercinta. Amat dalam,begitu besar. Rendahnya manusia akan cinta sejati……

Tak pernah dijadikan istimewa. Umum bebas tak terikat. Penuh keangkuhan. Sesuatu yang belum pernah terjadi. Sebuah senyum simpul terlalu dan amat kecil. Hingga tak tersadar sebuah kebohongan telah menikam.
Auman singa tak terkalahkan. Tangis burung pipit begitu menusuk. Amat terasa,begitu mendalam arti tentang mengerti. Sebuah pengakuan,kejujuran akan diri selalu kunanti.

2 Tanggapan ke “Puisiku”

  1. Black night Berkata:

    xhi….
    xhi….
    xhi….
    boleh……boleh
    puisikus banget………….
    ternyata avatar di balik kegundulannya puitis juga
    xhi…xhi…xhi.

  2. blognyaluke Berkata:

    HaH kamu dipanggil Avatar? hwakaka…

Tinggalkan Balasan