Perkenalkan saya Ruhan Luthfi. Saya lahir di Nganjuk 20 tahun yang lalu. Tepatnya saya dilahirkan di Dsn. Banar Ds. Katerban Kec. Baron Kab. Nganjuk Jawa Timur. Bahasa yang menjadi bahasa baku saya adalah bahasa jawa ( jawa ngoko), oleh karena itu, ketika saya berbicara dan menulis dalam bahasa Indonesia sering kali saya masukkan logat jawa atau biasa teman-teman dari Surabaya menyebutnya medhok. Sangat bersyukur saya bisa sedikit tahu mengenai kebudayaan yang ada di Sby (bukan capres, tapi Surabaya) padahal awalnya saya ingin sekali di Malang. Hanya saja Tuhan berkehendak lain, saya merantau ke Surabaya. Bisa dibilang bahwa Surabaya is the hottest country (yang benar city, saya hanya menirukan kebodohan seorang putri Indonesia; country menjadi city).
Banyak teman-teman SMA yang mengatakan kalau studi yang saya ambil cukup berat dan biasa mereka sebut sebagai momoknya pelajaran setelah matematika. Tapi bagi saya, studi Fisika bukanlah hal yang mengerikan, justru lebih mengerikan matematika (karena saya tidak bisa integral,diferensial, dan trigonometri). Lumayan juga ketika saya merasakan Fisika, begitu indahnya dunia ini dengan segala keteraturannya baik dari yang ukuran Angstrom (10-10 meter) sampai ukuran Tera (1012 meter) atau bahkan lebih kecil dan lebih besar.
Saya bisa disebut sebagai seorang yang ndeso, karena baru Surabaya dan sekitarnya serta Bandung yang sudah pernah saya datangi. Yupz.. Cukup kuper bila dibandingkan teman-teman saya yang ada di Surabaya ataupun teman-teman SMA. Biaya hidup di Surabaya tidak cukup mahal jika dibandingkan dengan yang ada di daerah lain seperti Malang, Bandung, dan Yogyakarta. Dengan uang 10 ribu bisa untuk makan 1 hari, silahkan dihitung sendiri untuk perbulannya. Selain itu, saya cukup beruntung mendapatkan tempat kos dengan biaya yang tidak lebih mahal jika dibandingkan dengan tetangga kos, 140 ribu per bulan. Untungnya saya termasuk orang yang tidak terlalu suka belanja di mall, kalau ditraktir makan atau jalan-jalan di mall, saya ‘mah tidak akan menolak. Oh iya, kos saya termasuk kos yang panas karena menggunakan asbes untuk atapnya. Biasanya teman-teman saya menyebut kalau belajar di kos saya adalah belajar yang hot, kalau sedang melihat film, maka teman saya menyebutnya menonton film hot. Maksud hot di sini bukan sesuatu yang ada hubungannya dengan pornoaksi dan pornografi, tapi memang keadaan kos saya yang selalu panas.
Paling tidak saya sudah bisa sedikit memberikan kebahagiaan kepada orang tua saya ( atau mungkin belum sama sekali karena pengorbanan orang tua saya yang tidak kenal lelah,sakit,mahal, dll ), karena biaya per semester untuk kuliah sudah terbayar lewat beasiswa (terima kasih untuk Eka Cipta Foundation). Untuk indeks prestasi (IP) tidak perlu saya sebutkan, tapi yang pasti jauh lebih banyak teman-teman saya di Fisika yang memiliki indeks prestasi jauh lebih besar dibandingkan saya. Tapi bagi saya sudah lebih dari cukup dengan IP pas-pas-an. Paling tidak, target lulus tahun 2010/2011 bisa dicapai, karena saya tidak ingin terlalu membebani ortu membiayai kuliah saya.
Teman-teman saya khususnya yang ada di We RaVe SUFi sangatlah luarbiasa hebat mereka. Sebagai contoh boz kami, Vera, dia memiliki indeks prestasi tertinggi di angkatan kami, sabar, tapi sayang dia pelupa jadi bahaya kalau nitip uang ke dia. Kemudian Rochman, ukuran tubuhnya yang aduhai di antara kami berenam, paling suka jahil. Sewaktu masih di Kertosono saya pun juga mempunyai teman yang ukuran tubuh hampir sama dengan Rochman, dia Luke yang saat ini sedang menempuh Hubungan Internasional di Unibraw, Malang. Untuk pacar?? Sepertinya tidak deh, bukan bermaksud sombong tapi ‘nggak bakalan deh kalau ada cewek yang naksir. Hehe, mungkin terlalu pelit kalee. Eh, hampir kelupaan, saya pernah sangat terkesan dengan salah seorang cewek karena dia tu……..
Kalau ingin tahu lebih banyak tentang saya, silahkan comment di blog ini atau di Facebook/Friendster ruhanluthfi@yahoo.co.id
Ditulis oleh pipix
Ditulis oleh pipix
Kepemimpinan
Februari 22, 2009Sebagaimana yang sudah saya baca, kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk mengatur, mempengaruhi orang lain untuk melaksanakan apa yang diinginkan. Secara umum, kepemimpinan merupakan sikap kita dalam bertindak sebijaksana dan seadil mungkin. Mungkin materi kepemimpinan sudah menggema di kehidupan organisasi baik sejak SMP hingga dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tapi penerapan dari kepemimpinan itu sendiri masih sangat kurang.
Misal seorang pemateri memberikan materi tentang bagaimana me-manage organisasi dengan baik. Namun dalam keseharian dari si pemateri, tidak tercermin sedikitpun dia me-manage kesehariannya. Contoh lain, seorang birokrat yang ada dalam pemerintahan tertangkap polisi karena terjerat kasus korupsi. Di organisasi telah ada peraturan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, namun faktanya kata-kata yang kotor,keras tetap saja ada. Lantas di manakah kepemimpinan orang tersebut?
Tipe-tipe kepemimpinan yang ada antara lain :
1. Demokratis, pemimpin yang memperhatikan suara bawahanya dalam mengambil keputusan
2. Paternalitas, pemimpin yang tidak memberikan kesempatan pada bawahannya karena merasa bawahannya masih perlu belajar banyak
3. Otokratis, pemimpin yang selalu otoriter dan diktator dalam memimpin
4. Pemimpin yang bersifat acuh tak acuh, sama sekali tidak memperhatikan keadaan organisasinya
Termasuk tipe kepemimpinan yang mana kita? Tipe di atas hanya beberapa dari sekian banyak teori kepemimpinan dalam berorganisasi. Lantas apakah sudah merasuk di dalam sanubari kita tentang esensi kepemimpinan itu sendiri?
Memang untuk dapat mengerti bagaimana kepemimpinan itu dibutuhkan banyak waktu serta latihan. Di manakah “Kawah Candradimuka” untuk melatihnya? ORGANISASI. Sungguh ironi jika di lingkungan kita khususnya di lingkungan pendidikan ada organisasi internal maupun ekstrakurikuler tapi kita tidak memanfaatkannya. Mungkin banyak orang tua yang berasumsi bahwa sekolah hanya untuk mendapatkan ilmu akademik dan ber-organisasi bisa menurunkan prestasi akademik. Menurut saya, IYA demikian yang pasti terjadi ketika kita kurang maksimal me-manage kegiatan kita baik untuk akademik maupun non-akademik. Justru akan terjadi sebaliknya jika kita bisa optimal membagi kegiatan kita, yakni prestasi akademik akan naik dengan adanya tambahan ilmu dari organisasi. Bagaimana mungkin bisa menambah nilai akademik? Di organisasi dilatih untuk dapat berbicara lancar, menyampaikan pendapat, dan berdebat dengan anggota lain. Dalam penilaian akademik, tidak hanya dari ujian tertulis (nilai kognitif), tapi juga ketrampilan (psikomotor) dan sopan santun (afektif) mendapatkan perhatian penuh dari guru maupun dosen. Ketrampilan di sini tidak hanya dalam “praktikum”, tapi juga kelancaran kita sewaktu menyampaikan pendapat. Dan saya rasa cukup beralasan jika kita menuntut sukses di bidang pendidikan maupun di dunia kerja dengan didasari ilmu akademik dan non-akademik.
Meski sebagian besar orang tua di Indonesia masih menganggap berorganisasi bagi anak-anaknya sangat menggangu belajarnya si anak, baik pemerintah maupun teman-teman yang sudah aktif di organisasi hendaknya bisa membantu teman-teman yang masih belum sepenuhnya mengerti ilmu non-akademik untuk bersedia bergabung dan pemerintah bisa memaksimalkan organisasi sekolah untuk membentuk calon-calon penerus bangsa yang berkualitas agar tidak ada pelaku-pelaku KKN. Serta sedikit harapan untuk seluruh orang tua, mari kita maksimalkan kemampuan putra-putri kita dalam menuntut ilmu sehingga mereka bisa layak menjadi anggota masyarakat yang berkualitas.